Monday, May 16, 2011

KITAB TENTANG TURUNNYA WAHYU

Bab
No
U R A I A N
1
Bagaimana mula-mula wahyu diturunkan kepada Rasulullah s.a.w.

1.
Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab r.a, dia berkata : Saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda : “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan niatnya. Barang siapa berhijrah dengan niat untuk kepentingan duniawi atau untuk mencari perempuan yang akan dikawininya, maka balasan hijrahnya sesuai dengan niatnya”.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 1)
2.
Diriwayatkan dari Aisyah r.a bahwa Al-Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w : “Ya Rasulullah! Bagaimana sampainya wahyu kepada Anda?” Rasulullah s.a.w menjawab : “Kadang-kadang wahyu diturunkan kepadaku seperti bunyi lonceng dan inilah yang aku rasakan paling berat, kemudian bunyi lonceng tersebut menghilang setelah aku menghafal wahyu yang diturunkan itu. Kadang-kadang malaikat (Jibril) mendatangiku dengan berwujud seorang laki-laki, lalu dia menyampaikan wahyu kepadaku, kemudian aku menghafal apa yang disampaikannya”. Kata Aisyah r.a : “Saya pernah melihat Rasulullah s.a.w ketika beliau sedang menerima wahyu pada hari yang sangat dingin, keringat beliau bertetesan dari dahi beliau susai menerima wahyu.”
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 2)
3.
Diriwayatkan dari Aisyah, Ummul mukminin r.a, dia berkata : Awal mula wahyu diturunkan kepada Rasulullah s.a.w berupa mimpi yang benar. Ketika itu Rasulullah mendapatkan mimpi yang benar seterang cahaya pagi, kemudian beliau senang berkhalwat.1 Beliau berkhalwat di gua Hira’ untuk beribadah selama beberapa malam sebelum beliau kembali kepada keluarganya. Rasulullah s.a.w membawa perbekalan makanan untuk berkhalwat, lalu beliau pulang menemui Khadijah untuk mengambil perbekalan lagi, sehingga ketika berada di dalam gua hira’, beliau tiba-tiba mendapat wahyu. Beliau didatangi malaikat yang mengatakan “Bacalah!” Rasulullah s.a.w menjawab, “Aku tidak bisa membaca”. Kata Rasulullah s.a.w. lalu malaikat itu memelukku keras-keras sehingga nafasku terasa sesak, kemudian dia melepaskanku, lalu dia katakan lagi, “Bacalah!” “Aku tidak bisa membaca”. Dia memelukku lagi (kedua kalinya) dengan keras sehingga nafasku terasa sesak, lalu dia melepaskanku, kemudian dia katakana lagi, “Bacalah!” “Aku tidak bisa membaca”. Dia memelukku lagi (ketiga kalinya) dengan keras sehingga nafasku terasa sesak, lalu dia melepaskanku, kemudian dia membacakan, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang maha Pemurah”, (Al-Qur’an, surah Al-‘Alaq : 1 -3). Kemudian Rasulullah s.a.w pulang membawa wahyu dengan hati yang penuh ketakutan. Beliau menemui Khadijah binti Khuwaylid r.a. Kata beliau, “Selimutilah aku! Selimutilah aku!” Maka keluarga nabi s.a.w menyelimuti beliau sehingga rasa takut beliau hilang. Beliau ceritakan kepada Khadijah peristiwa yang telah beliau alami. Kata beliau, “Aku takut akan terjadi sesuatu pada diriku”. Khadijah menjawab, “Demi Allah, tidak akan terjadi apa-apa. Allah tidak akan membuatmu hina, karena engkau selalu menyambung sanak kerabat, menolong fakir miskin, menghormati tamu dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah”. Khadijah mengajak Nabi s.a.w pergi untuk menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, sepupu Khadijah. Waraqah adalah orang yang beragama Nasrani pada masa Jahiliyah dan pernah menulis kitab Injil dalam bahasa Ibrani sebanyak yang dikehendaki oleh Allah. Ketika itu Waraqah sudah tua dan buta. Kata Khadijah, “Hai sepupuku! Dengarlah kata sepupumu (Muhammad) ini!” Warakah bertanya kepada Nabi s.a.w, “Hai sepupuku! Apa yang kau alami?” Rasulullah s.a.w menuturkan kepada Waraqah apa yang telah beliau alami, lalu Waraqah mengatakan kepada beliau, “Dia itu An-Namus (Jibril) yang juga telah diutus oleh Allah kepada Nabi Musa. Betapa seandainya aku masih muda dan masih hidup ketika nanti kaummu mengusirmu!” Rasulullah s.a.w bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tidak ada laki-laki yang menyampaikan wahyu seperti yang kau bawa ini melainkan akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup ketika nanti kau diusir, niscaya aku akan membelamu dengan segenap kemampuanku”. Tidak lama kemudian Waraqah wafat dan wahyu pun tidak turun dalam beberapa waktu.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 3)
4.
Dirwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshariy r.a mengenai terhentinya wahyu untuk sementara waktu. Jabir menuturkan hadits Nabi s.a.w. : “Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, kemudian aku mendongakkan kepalaku ke atas, tiba-tiba ada malaikat yang pernah mendatangiku di gua Hira’ – duduk diatas kursi antara langit dan bumi, sehingga aku merasa takut, lalu aku pulang. Kemudian aku katakana kepada keluargaku, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku!’ Kemudian Allah s.w.t menurunkan ayat-ayat berikut, yang artinya : ‘Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikanlah peringatan! Tuhanmu, agungkanlah! Pakaianmu, bersihkanlah! Dan segala yang keji, tinggalkanlah!’ (Al-Qur’an surat Al-Muddatsir ayat 1-5). Setelah itu wahyu sering turun silih berganti”.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 4)

5.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a tentang firman Allah s.w.t dalam surat Al-Qiyamah ayat 16. Kata Ibnu Abbas r.a. : Semula Rasulullah s.a.w ingin segera menirukan wahyu yang ditirukan kata demi kata karena khawatir tidak bisa menghafalnya, dan beliau menggerakan kedua bibirnya. Kata Ibnu Abbas : Aku menggerakan kedua bibirku sebagaimana Rasulullah s.a.w menggerakan kedua bibirnya, lalu Allah s.w.t menurunkan ayat, yang artinya : “Janganlah kamu gerakkan lidahmu hai Muhammad karena hendak cepat-cepat menguasai bacaan Al-Qur’an! Sesungguhnya tanggungan Kami-lah untuk menghimpunnya dalam dadamu dan memberimu kemampuan untuk membacanya”, (Al-Qur’an surat Al-Qiyamah ayat 16-17). Kata Ibnu Abbas, ‘Allah akan menghimpun Al-Qur’an di dalam dada Nabi s.a.w dan member beliau kemampuan untuk membacanya’. “Maka apabila Kami telah membacakannya kepadamu (melalui Jibril), ikutilah pembacaannya!” (Al-Qur’an surat Al-Qiyamah ayat : 18). Kata Ibnu Abbas r.a, ‘Maksudnya : Dengarkan dulu dan diamlah!, “Kemudian kami-lah yang akan menjelaskannya”, (Al-Qur’an, surat Al-Qiyamah ayat : 19), yakni : kami-lah yang akan membantu bisa membacanya. Setelah ayat-ayat itu diterima oleh Nabi s.a.w, maka apabila beliau didatangi oleh Jibril, beliau mendengarkannya, kemudian setelah Jibril pergi, Nabi s.a.w menirukan bacaan Jibril tersebut’.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 5)


6.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dia berkata : Rasulullah s.a.w adalah orang yang paling dermawan. Puncak kemurahan hati beliau adalah pada bulan Ramadhan, ketika beliau ditemui oleh Jibril a.s. Jibril menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an dengan beliau. Sungguh kemurahan hati Rasulullah s.a.w melebihi kemurahan angin yang diutus untuk menurunkan hujan.
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 6)
7.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa Abu Sufyan bin Harb pernah memberitahukan kepadanya bahwa Heraclius pernah mengirim utusan kepadanya ketika dia memimpin suatu kafilah suku Quraisy. Ketika itu mereka berniaga di Syam pada saat gencatan senjata antara Rasulullah s.a.w dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Abu Sufyan dan rombongannya menemui Heraclius ketika mereka berada di Ilya (Yerusalem). Heraclius yang didampingi oleh para pembesar Romawi memanggil Abu Sufyan dan rombongannya melalui seorang penerjemah. Heraclius bertanya : “Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan kerabatnya dengan orang yang mengaku dirinya menjadi nabi itu?”2 Abu Sufyan menjawab : “Saya”. Kata Heraclius : “Suruh dia mendekat kemari dan suruh teman-temannya berada di belakangnya”. Kata Heraclius kepada penerjemahnya : “Katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya mengenai orang yang mengaku menjadi nabi itu dan jika dia (Abu Sufyan) berdusta, katakana kepada dia (Abu Sufyan) berdusta”. Kata Abu Sufyan : “Demi Allah! Jika ketika itu saya tidak merasa malu dan takut dituduh bohong oleh teman-teman saya, niscaya saya akan memberikan jawaban dusta kepada Heraclius tentang Nabi. Pertanyaan pertama yang ditanyakan Heraclius kepada saya adalah, ‘Bagaimana nenek moyang laki-laki yang mengaku menjadi nabi itu?’ Saya menjawab, ‘Dia keturunan orang-orang terhormat’. Tanya Heraclius selanjutnya, ‘Apakah ada orang lain sebelum dia dari sukumu yang mengaku menjadi nabi?’ Saya menjawab, ‘Tidak ada’. Heraclius bertanya lagi, ‘Apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja?’ Saya menjawab, ‘Tidak ada’. Tanya Heraclius selanjutnya, ‘Apakah pengikutnya kaum bangsawan ataukah rakyat biasa?’ Saya menjawab, ‘Rakyat biasa’. Tanya Heraclius lagi, ‘Pengikutnya terus bertambah ataukah berkurang?’ Saya menjawab, ‘Terus bertambah’. Heraclius bertanya lagi, ‘Apakah ada salah seorang pengikutnya yang keluar dari agamanya karena tidak suka setelah memeluknya?’ Saya menjawab, ‘Tidak ada’. Heraclius bertanya lagi, ‘Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengaku menjadi nabi?’ Saya menjawab, ‘Tidak pernah’. Tanya Heraclius selanjutnya, ‘Pernahkah dia ingkar janji?’ Saya menjawab, ‘Tidak pernah. Sekarang ini kami sedang mengadakan gencatan senjata dengannya dan kami tidak tahu apa yang akan dia perbuat dalam gencatan senjata ini’. Kata Abu Sufyan : “Tidak saya temukan satu katapun untuk menyangkal Heraclius kecuali kata yang terakhir tadi.” Heraclius bertanya lagi, ‘Apakah kalian pernah berperang dengannya?’ Saya mejawab, ‘Pernah’. Tanya Heraclius lagi, ‘Bagaimana peperangan tersebut?’ Saya menjawab, ‘Dia pernah menang dan kami juga pernah menang’. Herclius bertanya lagi, ‘Apa yang dia serukan kepada kalian?’ Saya menjawab, ‘Dia menyeru kami menyembah Allah satu-satu-Nya tanpa mempersekutukan sesuatu dengan-Nya dan menyeru kami meninggalkan tuhan-tuhan yang disembah oleh nenek moyang kami. Dia juga menyuruh kami mengerjakan shalat, berkata dan berlaku jujur, menjaga kesucian diri dan menyambung sanak famili’. Kata Heraclius kepada penerjemahnya : “Katakan kepadanya (Abu Sufyan), ‘Aku tanyakan kepadamu tentang nasab laki-laki yang mengaku menjadi nabi itu lalu kamu menjawab bahwa dia keturunan orang-orang terhormat, memang begitulah para rasul selalu diutus dari nasab yang mulia. Aku tanyakan kepadamu, ‘Apakah ada orang lain sebelum dia yang mengaku menjadi nabi’, lalu kamu menjawab, ‘Tidak ada’. Kalau ada orang lain sebelum dia mengaku menjadi nabi, maka dia hanya meniru ucapan orang tersebut. Aku tanyakan kepadamu, ‘Apakah ada salah seorang nenek moyangnya yang menjadi raja?’, lalu kamu menjawab, ‘Tidak ada’. Kalau ada salah seorang nenek moyangnya yang menjadi raja, berarti dia menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya. Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah kamu pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan bahwa dia seorang nabi?’ Lalu kamu menjawab, ‘Tidak’. Aku yakin bahwa dia yang tidak pernah berkata dusta kepada semua orang itu tidak akan berdusta tentang Allah. Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah para pengikutnya orang-orang bangsawan ataukah rakyat biasa?’ lalu kamu menjawab, ‘Rakyat biasa’. Memang, pengikut para rasul itu kebanyakan rakyat biasa. Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah pengikutnya terus bertambah atau berkurang?’ Lalu kamu menjawab, ‘Terus bertambah’. Memang demikianlah iman yang benar kalau sudah mantap. Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah ada salah seorang pengikutnya yang keluar karena tidak senang setelah memeluk agamanya?’ Lalu kamu menjawab, ‘Tidak ada’. Memang begitulah iman kalau sudah meresap ke dalam hati. Aku bertanya kepadamu, ‘Apakah dia pernah ingkar janji?’ lalu kamu menjawab, ‘Tidak pernah’. Memang, para rasul tidak ada yang ingkar janji. Aku bertanya kepadamu, ‘Apa yang dia serukan kepadamu?’ Lalu kamu menjawab, ‘Bahwa dia menyeru kamu menyembah Allah satu-satu-Nya tanpa kamu sekutukan sesuatu dengan-Nya dan dia melarang kamu menyembah berhala, menyuruh kamu mengerjakan shalat, berkata dan berlaku jujur, serta menjaga kesucian diri’. Jika apa yang katakana itu benar, maka tidak lama lagi dia akan menduduki tempat kedua kakiku ini. Aku tahu (dari Kitab Injil) bahwa wilayah kekuasaannya akan meluas. Tapi aku tidak yakin  kalau dia berasal dari kaummu. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa bertemu dengannya, tentu aku akan segera menemuinya. Kalau aku berada di sisinya, tentu aku akan basuh kedua telapak kakinya’.” Kata Abu Sufyan : “Setelah itu Heraclius meminta surat yang dikirimkan oleh Rasulullah s.a.w melalui Dihyah kepada gubernur Bushra. Kemudian surat tersebut diserahkan kepadanya dan dibacanya”, yang isinya : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, ditujukan kepada Heraclius, penguasa Byzantium. Kedamaian bagi orang yang mengikuti jalan kebenaran. Selanjutnya Aku mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuk Islamlah, maka Anda akan selamat lalu Allah akan memberi Anda pahala dua kali lipat, tetapi jika Anda menolak seruan masuk Islam ini, maka Anda akan menanggung dosa kaum Arisiyyin. Aku tuliskan di dalam surat ini firman Allah s.w.t, (yang artinya) : ‘Hai ahli Kitab! Marilah kita bersatu dalam kata yang sama antara kami dengan kalian bahwa kita tidak menyembah selain Allah, dan bahwa kita tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, serta sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Saksikanlah bahwa kami orang-orang yang berserah diri kepada Allah’ (Al-Qur’an, surat Ali Imran ayat : 64)’.” Kata Abu Sufyan, ‘Begitu Heraclius selesai berbicara dan membaca surat itu, ruangan pertemuan tersebut menjadi gaduh dan suara-suara keraspun bersahutan sehingga kami disuruh keluar’. Saya katakana kepada teman-teman saya, ‘Sungguh hebat putra Abu Kabsyah (julukan yang diberikan Abu Sufyan untuk memperolok Nabi s.a.w.), sehingga ditakuti oleh raja Bani Ashfar dan saya selalu percaya bahwa dia akan menjadi penakluk, sehingga akhirnya Allah membuatku menjadi pemeluk Islam.3  Ketika itu Ibnu An-Nathur menjadi gubernur Ilya’, sedangkan Heraclius adalah pemimpin orang-orang Nasrani Syam. Ibnu An-Nathur menceritakan bahwa, ketika Heraclius mengunjungi Ilya’ (Yerusalem), dia bangun tidur di pagi hari dengan wajah murung, kemudian dia ditanya oleh para pendetanya, ‘Apa yang membuat Anda murung?’ Kata Ibnu An-Nathur, ‘Heraclius adalah seorang astrolog/peramal yang berpedoman pada bintang-bintang’. Heraclius menjawab, ‘Semalam ketika aku melihat bintang-bintang, aku melihat bahwa pemimpin orang-orang yang berkhitan telah muncul, lalu bangsa manakah yang berkhitan?’ Mereka menjawab, ‘Tidak ada yang berkhitan kecuali orang-orang Yahudi. Jangan cemas dengan orang-orang Yahudi! Tulis saja surat kepada semua penguasa di seluruh pelosok negeri Anda untuk membunuh semua orang orang Yahudi yang ada di wilayah masing-masing’. Ketika mereka sedang membicarakan hal itu, ada seorang utusan penguasa Ghassan menghadap Heraclius untuk menyampaikan surat dari Rasulullah s.a.w kepadanya. Setelah Heraclius membaca surat itu, dia mengatakan kepada anak buahnya, ‘Periksalah pembawa surat ini, apakah dia berkhitan atau tidak?’ Mereka memeriksanya, lalu mereka beritahukan kepada Heraclius bahwa dia berkhitan. Heraclius bertanya kepada pembawa surat tersebut mengenai orang-orang Arab, lalu pembawa surat tersebut menjawab bahwa orang-orang Arab juga berkhitan. Kata Heraclius, ‘Penguasa Arab yang berdaulat4  telah muncul’. Setelah itu Heraclius menulis surat kepada temannya di Roma yang ilmunya setingkat dengannya. Kemudian Heraclius pergi ke kota Himsh (di Syiria) dan dia tidak beranjak dari kota itu, sehingga dia mendapat surat balasan dari temannya yang sependapat bahwa telah muncul seorang nabi, yaitu Muhammad yang mengirimkan surat kepadanya.
Heraclius mengundang para pejabat Romawi untuk berkumpul di istananya di kota Himsh, lalu dia memerintahkan agar semua pintu istana dikunci, kemudian dia menemui para pejabat tersebut, lalu berkata, ‘Hai seluruh bangsa Romawi! Jika kalian menginginkan kemenangan dan jalan yang benar, serta menginginkan agar kekuasaan kalian tetap abadi, maka berbaiatlah kepada Nabi Muhammad (masuklah Islam)!’. Mendengar itu, para undangan berlarian hiruk-pikuk bagai keledai liar menuju pintu-pintu keluar, tetapi mereka dapati semua pintu telah dikunci. Setelah Heraclius mengerti bahwa mereka tidak menyukai Islam dan tdak mungkin mereka beriman (dengan mengikuti Nabi Muhammad s.a.w.), maka dia berkata, ‘Suruh mereka kembali kepadaku!’ Lalu dia berkata lagi, ‘Sesungguhnya aku berkata seperti itu tadi hanya untuk menguji seberapa kokoh agama kalian dan aku sudah membuktikannya’. Mendengar itu, mereka bersujud kepada Heraclius dan merasa lega kembali. Demikianlah akhir kisah Heraclius.”
(Hadits shahih Imam Bukhari, nomor hadits : 7)






1 Menyepi untuk beribadah kepada Allah.
2 Maksudnya adalah Nabi Muhammad s.a.w.
3 Abu Sufyan ketika itu belum masuk Islam. Dia masuk Islam ketika penaklukan Mekkah (yaum al-fath), yang kemudian menjadi mertua Nabi s.a.w.
4 Yaitu Rasulullah s.a.w yang mengirimkan surat tersebut.
 

0 komentar:

Post a Comment

Situs ini menerapkan “Dofollow Site Comment System”
Beri komentar sebanyak-banyaknya yang tentunya akan membawa manfaat pula bagi perkembangan blog/situs Anda. Namun komentar Anda harus dengan syarat :

1. Tidak mengandung Spam, SARA, Pornografi;
2. Komentar harus ada kaitannya dengan materi yang dibahas
dalam posting;
3. Tidak berisi link aktif di dalam badan komentar.

Selamat berkomentar dan semoga bermanfaat bagi perkembangan blog/situs Anda.

Terima kasih.